Cucum Suminar

Lifestyle, Parenting & Travelling Blog

Buat Kamu yang Sedang Mengejar Mimpi, Tonton Deh “Twenty Five Twenty One”

Drama Korea baru datang dan pergi. Namun entah mengapa, saya masih saja terkesan dengan Drama Korea Twenty Five Twenty One yang kisahnya sudah selesai tayang awal April 2022 lalu.

Mungkin karena ceritanya tidak hanya mengulas romansa si pemeran utama, tetapi juga menceritakan bagaimana sang tokoh utama mengejar dan mewujudkan mimpinya meski sangat berliku dan tidak mudah.

Drama Korea Twenty Five Twenty One. | Foto dokumentasi TVN.

Sejak episode awal, drama Korea ini sudah sangat menginspirasi. Siapa pun yang menonton akan tergugah untuk melihat kembali impiannya dan bersemangat untuk mewujudkan mimpi tersebut.

Tidak Ada Impian Tanpa Hambatan

Drama Korea  (drakor) ini menceritakan mengenai siswa SMA bernama Na Hee Do (Kim Tae Ri) yang bermimpi menjadi atlet anggar tim nasional Korea Selatan. Sekaligus, menjadi pesaing Goo Yoo Rim (Kim Ji Yeon), atlet anggar profesional yang menjadi idolanya.

Na Hee Do saat berjuang agar tetap bisa bermain anggar dengan cara pindah sekolah. | Foto diambil dari Instagram Kim Tae Ri Official

Namun sayang, belum sempat impian Na Hee Do terwujud, klub anggar sekolahnya terpaksa harus ditutup akibat terdampak krisis moneter 1998. Satu-satunya cara agar ia bisa tetap bermain anggar adalah pindah sekolah ke sekolah  Goo Yoo Rim.

Akan tetapi, pindah sekolah bukan hal yang mudah. Na Hee Do berpikir, sang ibu tidak akan mungkin mengizinkan dirinya pindah sekolah hanya agar ia bisa tetap bermain anggar. Apalagi sang ibu, Shin Jae Kyung (Seo Jae He),  sudah terang-terangan memintanya berhenti bermain anggar dan fokus belajar.

Mimpi Harus Diwujudkan melalui Cara yang Baik

Agar bisa pindah sekolah, Na Hee Do melakukan beragam cara. Pertama membuat gara-gara dengan teman sekolahnya. Tujuannya agar ia dikeluarkan dari sekolah, dan otomatis, mau tidak mau, sang ibu terpaksa memindahkannya ke sekolah lain, sekolah Goo Yoo Rim.

Baek Yi Jin yang selalu jadi penyelamat dan penyemangat Na Hee Do. | Foto diambil dari soompie.com

Namun sayang, teman sekolahnya itu tidak terprovokasi. Ia malah begitu peduli dengan Na Hee Do. Saat dengan sengaja ditabrak oleh Na Hee Do, teman sekolahnya malah khawatir Na Hee Do terluka. Sebab bagi seorang atlet, anggota tubuh yang sehat merupakan aset utama.

Gagal mengajak teman sekolahnya adu jotos. Na Hee Do mencari cara lain. Kali ini ia melibatkan diri pada insiden tawuran. Saat melihat ada beberapa pelajar yang akan tawuran, ia ikut para pelajar tersebut, tak lupa menelepon polisi. Harapannya, saat mereka sedang tawuran, Na Hee Do akan ditangkap polisi dan dikeluarkan dari sekolah.

Namun nyatanya, polisi malah mengejar dua pria yang Na Hee Do serang dengan payung. Na Hee Do ditinggalkan di lokasi tawuran tersebut begitu saja tanpa sanksi apapun.

Gagal dengan cara tersebut. Na Hee Do akhirnya pergi ke tempat hiburan malam. Ia berharap ada petugas yang curiga ia masih berstatus pelajar, lalu menangkap dan melaporkannya ke pihak sekolah. Akan tetapi, tidak ada kejadian seperti itu.

Ia malah bertemu dengan Baek Yi Jin (Nam Joo Hyuk). Seorang loper yang biasa mengantar koran ke rumahnya. Baek Yi Jin akhirnya menasihati Na Hee Do agar tidak melakukan hal negatif untuk bisa pindah sekolah.

Baek Yi Jin mengatakan, bila Na Hee Do tertangkap di tempat hiburan malam, belum tentu hasilnya sesuai rencana. Ia bisa saja dikeluarkan dari sekolah, tetapi belum tentu bisa pindah ke sekolah yang ia harapkan.

Akhirnya Na Hee Do dinasihati untuk mengutarakan keinginannya pindah sekolah kepada sang ibu secara baik-baik, membicarakannya sebagai seorang anak yang butuh dukungan dari seorang ibu.

Berlatih dengan Mentor

Berusaha sendiri untuk mengejar suatu impian, bukan hal yang salah. Namun, hasilnya tidak akan seoptimal bila kita melibatkan mentor. Tentu, mentor yang profesional, atau setidaknya yang menguasai bidang tersebut.

Sebaiknya berlatih dengan mentor. | Foto dokumentasi TVN

Seperti halnya Na Hee Doo. Saat ada seleksi untuk menjadi atlet anggar tim nasional Korea Selatan, ia langsung meminta pelatih anggarnya di sekolah, Yang Chan Mi (Kim Hye Eun) untuk melatihnya secara intensif.

Padahal, hal tersebut bukan hal yang umum. Atlet anggar di sekolah Na Hee Do (yang baru) umumnya hanya berlatih di jam-jam latihan yang ditentukan. Itu pun bersama-sama. Bila ingin berlatih di luar jam tersebut, biasanya mereka berlatih sendiri.

Saat Yang Chan Mi melatih Na Hee Do secara intensif, ia sempat diprotes Goo Yoo Rim. Goo Yoo Rim mengatakan, Yang Chan Mi sudah seperti pelatih pribadi Na Hee Do. Goo Yoo Rim menuduh Yang Chan Mi mengistimewakan Na Hee Do.

Namun, Yang Chan Mi mengatakan, ia memperlakukan semua siswa yang ikut klub anggar di sekolah tersebut sama. Akan tetapi, hanya Na Hee Do yang meminta untuk dilatih secara intensif seperti itu.

Bila ada siswa lain yang meminta untuk dilatih secara intensif seperti Na Hee Do, ia pun tidak akan keberatan untuk melakukannya.

Alhasil, berkat latihan intensif tersebut, keinginan yang kuat, dan kemampuan yang memang dimiliki, Na Hee Do berhasil lolos menjadi atlet anggar tim nasional Korea Selatan.

Padahal, bila dibandingkan dengan peserta lain, peringkat Na Hee Do jauh di bawah mereka. Ranking Na Hee Do yang paling buncit. Ia bahkan tertolong bisa ikut seleksi tersebut karena ada atlet yang seharusnya berhak ikut seleksi, tetapi berhalangan ikut.

Hasil memang tidak pernah mengkhianati usaha.

Harus Tahan Banting

Na Hee Doo sangat mengagumi Goo Yoo Rim. Bertahun-tahun ia mengikuti semua informasi Goo Yoo Rim melalui media masa. Goo Yoo Rim adalah atlet anggar tim nasional Korea Selatan yang kerap menjadi juara di berbagai pertandingan anggar nasional maupun internasional.

Goo Yoo Rim dan Na Hee Do. | Foto diambil dari instagram tvn_drama

Saat pindah ke sekolah Goo Yoo Rim, Na Hee Do berharap ia bisa akrab dengan Goo Yoo Rim. Namun nyatanya, Goo Yoo Rim malah bersikap sinis pada Na Hee Do. Ia bahkan menghina Na Hee Do dan menjatuhkan mentalnya terkait kemampuan Na Hee Do dalam bermain anggar.

Beruntung, Na Hee Do tidak termakan omongan Goo Yoo Rim. Ia tetap percaya diri dengan kemampuannya. Ia bahkan lebih berusaha untuk meningkatkan kemampuannya bermain anggar.

Belakangan diketahui, Goo Yoo Rim bersikap seperti itu kepada Na Hee Do karena merasa insecure. Ia melihat potensi yang dimiliki Na Hee Do. Saat kecil, Goo Yoo Rim bahkan pernah dikalahkan Na Hee Do pada sebuah kejuaraan anggar. Namun, Na Hee Do tidak ingat peristiwa tersebut. Hanya Goo Yoo Rim yang ingat.

Harus Konsisten dan Pantang Menyerah

Saat kecil, Na Hee Do dinilai sebagai anak yang sangat berbakat di bidang anggar. Ia menjuarai berbagai kejuaraan. Sayang beranjak remaja, kemampuannya malah melempem. Setiap kali ikut kejuaraan anggar, selalu kalah. Apalagi sang ayah yang menjadi penyemangatnya bermain anggar meninggal dunia karena sakit.

Pantang menyerah. | Foto dokumentasi TVN

Beruntung semangat Na Hee Do bermain anggar tidak pupus. Setelah mendapat pelatih yang sesuai dan sangat mendukung mimpinya, ia semakin bersinar menjadi atlet anggar. Ia bahkan selalu menjuarai kejuaraan anggar nasional dan internasional.

Satu hal yang paling diingat dari Na Hee Do terkait mimpinya sebagai atlet anggar tim nasional Korea Selatan meski awalnya nyaris tidak mungkin dicapai, bermain anggar itu bukan untuk menghimpun pujian, tetapi karena suka. Bila kita (masih) suka melakukan itu, lakukan. Namun, bila sudah tidak suka, tinggalkan.

Meski awalnya selalu kalah di setiap kejuaraan anggar, Na Hee Do tidak pantang menyerah. Ia selalu mencoba dan mencoba lagi. Tidak pernah terbersit dalam pikirannya ternyata ia salah menilai diri, merasa berbakat, ternyata tidak.

Hal tersebut sepertinya relate banget dengan kita. Kita pasti pernah merasa suka dan berbakat di suatu bidang, tetapi setelah ditekuni tidak berhasil. Nah, kalau kita menyukai kegiatan tersebut, meski berkali-kali gagal, tidak usah ditinggalkan, jalani saja secara konsisten.

Sambil terus berusaha meningkatkan kemampuan, salah satunya dengan mencari mentor yang sesuai.

Jangan putus asa, dan buru-buru mengklaim diri tidak berbakat di bidang itu. Seperti yang ayah Na Hee Do bilang:

“Kemampuan tidak meningkat seperti lereng, tetapi bak tangga. Naiklah selangkah demi selangkah.”

(Ayah Na Hee Do. Drama Korea Twenty Five Twenty One)

Jadi, semangat lagi kan mewujudkan impian? Salam! (*)

.

21 comments on “Buat Kamu yang Sedang Mengejar Mimpi, Tonton Deh “Twenty Five Twenty One”

  1. Hits banget emang ni drama. Bahkan melepaskan orang yang tersayang demi mengejar cita-cita. Suka sama nilai-nilai yang ada di drama ini, padahal awalnya aku nggak kuat nonton gara-gara “Napa teriak-teriak mulu dah Na Hee Do?”

    1. Iya Mbak banyak banget hal baik yang bisa diambil dari drama Korea ini. Keren banget ceritanya, walaupun endingnya sedikit “nyesek” hehe.

  2. Saya bilang drakor ini mampu membuat kita kembali mengingat rasanya idealisme masa muda. Biar semangat saat mengejar mimpi dan apa saja yang mungkin perlu dikorbankan saat kita berusaha meraih mimpi tersebut. Keren memang drakor satu ini

  3. Suka banget film twenty five twenty nine ini, salut ama kerja keras dan perjuangan Na Hee Do meraih mimpi. Sedihnya ending engga sesuai harapan saya yang pengennya Hee Do ama Baek Yi Jin. Overall sih ceritanya bagus.