Cucum Suminar

Lifestyle, Parenting & Travelling Blog

Zero Waste Cities dan Peningkatan Kualitas Hidup Petugas Sampah

Hubungan manusia dan sampah begitu lekat. Bila ada manusia, pasti ada sampah. Sebab, setiap manusia hidup pasti menghasilkan sampah. Baik sampah organik, maupun anorganik. Alhasil, bila tidak dilakukan kebijakan dan upaya-upaya untuk mengurangi sampah oleh seluruh komponen masyarakat, volume sampah yang dihasilkan akan berpotensi terus bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk.

Padahal dampak sampah luar biasa. Sampah memberi pengaruh buruk pada lingkungan, mulai dari polusi laut, udara, hingga tanah. Sampah bahkan bisa menjadi pemicu memanasnya hubungan antar wilayah. Hal tersebut seperti yang terjadi pada DKI Jakarta dan Kabupaten Bekasi. Pada pertengahan 2018 lalu, kedua wilayah tersebut sempat bersitegang gara-gara sampah.

Sampah di TPA Pulau Belakangpadang, Batam. | Dokumentasi Pribadi

Tak hanya itu, sampah juga dapat menjadi penyebab tragedi yang sangat memilukan. Hal tersebut seperti yang terjadi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwi Gajah, Cimahi, Jawa Barat. Pada 21 Februari 2005, ada 143 orang tewas, 71 rumah dan dua kampung terkubur longsoran sampah yang berasal dari TPA Leuwi Gajah.

Berdasarkan data yang dirilis detik.com, saat itu, sampah sepanjang 200 meter dengan tinggi 60 meter di TPA Leuwigajah longsor. Hujan deras yang mengguyur selama dua hari berturut-turut ditambah akumulasi gas metan dari tumpukan sampah-sampah tersebut, membuat sampah yang ada di TPA Leuwi Gajah meledak dan menerjang perkampungan seperti ombak.

Begitu pilunya tragedi tersebut, pemerintah sampai menetapkan hari tersebut sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Satu tahun sejak peristiwa tersebut, HPSN rutin diperingati agar masalah sampah menjadi perhatian utama seluruh lapisan masyarakat. Pengelolaannya tak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh komponen masyarakat.

Memilah Sampah, Masih Menjadi “PR”

Memilah sampah belum menjadi budaya di Indonesia. Sampah biasanya dibuang begitu saja ke tempat sampah. Tanpa dipilah terlebih dahulu mana sampah organik, mana anorganik. Mana sampah kimia, mana sampah non kimia. Apalagi sampah-sampah rumah tangga di pemukiman.

Pemilahan sampah masih menjadi PR besar. | Dokumentasi Pribadi

Ada memang beberapa instansi dan perusahaan yang sudah menerapkan pemilahan sampah. Mereka menyiapkan tempat sampah khusus untuk sampah organik, anorganik, kimia, non kimia, medis, non medis. Hanya saja jumlahnya belum signifikan. Terlebih bila pemerintah daerahnya belum begitu consent terkait pengelolaan sampah yang ideal

Tak hanya itu, sampah-sampah di Indonesia yang dibuang ke TPA juga umumnya menggunakan sistem dumping. Sampah dibuang begitu saja ke TPA, tanpa dilakukan pemilahan atau pengolahan terlebih dahulu. Alhasil, sampah-sampah tersebut menggunung dan rawan longsor.

Yuk, Mulai Terapkan Zero Waste Cities (ZWC)

Zero Waste Cities (ZWC) adalah pengembangan sistem pengumpulan sampah terpilah dan pengolahan sampah secara holistik dan berkelanjutan meliputi aspek edukasi, operasional, kelembagaan, regulasi dan pembiayaan di suatu kawasan. Program ini sudah digalakan di beberapa kota dan kabupaten di Indonesia oleh Yaksa Pelestari Bumi Berkelanjutan (YPBB) sejak beberapa tahun lalu.

Masih banyak yang membuang sampah seperti ini. | Dokumentasi Pribadi

Dilansir dari blog YPBB, tujuan utama Program ZWC tentu saja untuk mengurangi jumlah produksi sampah yang diangkut ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) atau TPA.

Selain itu, agar ada sistem pengelolaan sampah yang terdesentralisasi. Ada pemilahan sampah sejak dari sumber dan ada sistem pengomposan yang disesuaikan dengan kondisi wilayah.

Tak hanya itu, Program ZWC juga bertujuan agar ada sistem pendukung pengelolaan sampah yang menyeluruh. Ada lembaga pengelola, ada aturan lokal yang didukung oleh aparat kewilayahan, dan ada pembiayaan yang berkelanjutan.  

Sistem pengomposan. | Dokumentasi YPBB

Satu lagi yang paling penting dari program ZWC, agar partisipasi warga dalam mengelola sampah semakin meningkat, baik dalam skala rumah tinggal, maupun secara komunal.

Beberapa daerah di Indonesia sudah menerapkan Program ZWC. Ada Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta, Kota Denpasar dan Kabupaten Gresik.

Namun, meski kota tempat kita tinggal belum menerapkan Program ZWC-pun sebenarnya kita bisa mulai dari diri sendiri untuk mulai menerapkan program nol sampah tersebut. Kita bisa secara bertahap mulai menekan jumlah sampah rumah tangga yang kita hasilkan.

Dengan zero waste cities diharapkan tidak ada lagi tumpukan sampah seperti ini. | Dokumentasi Pribadi

Plastik-plastik bekas kemasan sabun mandi, minyak goreng, beras, bisa kita manfaatkan sebagai ganti pot tanaman. Apalagi kemasan-kemasan tersebut umumnya cukup tebal dan tidak mudah robek.

Agar tidak ada sampah makanan, usahakan makan tanpa sisa. Ambil makanan secukupnya. Sampah sisa makanan ini ngeri lho, sama seperti sampah organik lain, bila dibiarkan sampah akan mengandung gas metana yang beracun, mudah terbakar dan bisa meledak seperti bom.

Hal yang lebih penting, agar tidak memperoduksi banyak sampah, tentu saja kita harus bijak mengkonsumsi apapun. Tak hanya makanan, produk lain juga. Pakaian, ponsel, hingga peralatan dan perkakas rumah tangga. Bila belum rusak, jangan beli dulu.

Bila masih berfungsi kita membeli yang baru –hanya karena merasa sanggup beli, otomatis kita sudah menambah sampah. Sebab, barang lama biasanya dibuang, atau teronggok begitu saja. Lain hal kalau kita beli baru dengan tukar-tambah, atau barang lama diberikan kepada orang lain yang membutuhkan.

Proses pemilahan sampah. | Dokumentasi YPBB

Namun, bila tidak ada sampah sama sekali memang tidak mungkin. Pasti ada saja sampah yang harus kita buang ke tempat sampah. Namun, bila kita sudah menerapkan Program ZWC sampah yang dibuang tentu akan jauh lebih sedikit. Selain itu, sampah yang kita buang sudah terpilah.

Kita tidak lagi memasukan sisa nasi ke plastik sampah yang berisi botol-botol minuman, tidak juga menyatukan sampah sayuran dengan kemasan karton yang dapat didaur ulang. Tidak juga memasukan kulit udang ke plastik yang berisi popok sekali pakai yang sudah digunakan.

Mengelola sampah akan lebih mudah dilakukan bila dimulai dari kawasan terkecil, yaitu setiap rumah di kawasan RT/RW. Setelah sukses di tingkat RT/RW, berlanjut ke kelurahan, kecamatan, kota, provinsi hingga akhirnya nasional. Dari lingkup terkecil ke terbesar.

Zero Waste Cities (ZWC) Membantu Meningkatkan Kualitas Hidup Petugas Sampah

Program ZWC sangat bermanfaat untuk banyak pihak. Pemerintah daerah tak lagi pusing harus memikirkan perluasan TPA nyaris setiap tahun, lingkungan lebih bersih, kita juga tak lagi gelisah menunggu petugas sampah mengangkut sampah-sampah yang diletakan di tempat sampah di depan rumah karena sudah menumpuk dan bau. Petugas sampah terlambat datang pun kita masih bisa tetap santuy.

Petugas sampah. | Dokumentasi YPBB

Sementara untuk petugas sampah, lebih mudah mengangkutnya karena jumlahnya lebih sedikit. Selain itu, sampah juga terlihat lebih bersih karena sudah dipilah mana yang organik, mana yang anorganik. Sampah tak lagi terlihat jorok dan bau kemana-mana.

Selama ini, ada banyak diantara kita yang tanpa sadar sudah semena-mena kepada tukang pengangkut sampah. Sampah dibuang suka-suka. Terkadang saya melihat sampai berceceran keluar dari tempat sampah. Nanti, bila sampah-sampah tersebut tidak diangkut dan dibiarkan –hanya diangkut yang ada di dalam tong sampah, marah ke tukang sampah.

Saya masih termasuk manusia penghasil sampah yang cukup banyak, tetapi terkadang melihat hal yang seperti itu menjadi gemas sendiri. Apa susahnya dikemas yang baik sampahnya. Jangan sampai berceceran. Barang yang masih dipakai, dimanfaatkan untuk hal lain, jangan langsung buang.

Sampah yang sekiranya berbahaya dikemas yang rapi dan aman. Jangan sampai ada petugas sampah yang terluka, pincang, bahkan meninggal dunia seperti yang terjadi di Bandung karena mereka tidak sengaja menginjak bambu bekas tusuk sate yang dibuang begitu saja di tempat sampah.

Yup, selain bermanfaat untuk menjaga lingkungan, Program Zero Waste Cities (ZWC) juga dapat membantu meningkatkan kualitas hidup petugas sampah. Dengan adanya pemilahan sampah dari rumah, dampak berbahaya dari sampah-sampah tersebut dapat lebih ditekan. Risiko terpapar sampah berbahaya dapat dihindari.

Petugas Sampah. | Dokumentasi YPBB

Diharapkan tidak ada petugas sampah yang tepapar gas metana yang cukup beracun dari pembusukan sampah organik, tidak ada lagi juga yang kakinya harus terluka karena tertusuk bambu bekas tusuk sate.

Bila dilakukan pemilahan, petugas sampah juga bisa langsung memanfaatkan barang-barang bekas yang masih bisa didaur ulang atau dijual. Sehingga, bisa memberikan nilai ekonomi. Tambahan penghasilan kepada petugas sampah tersebut.

Mereka juga tidak perlu membersihkan lagi karena misalkan barang tersebut sudah bercampur dengan sisa nasi atau sayur. Pemilahan sampah dari rumah juga bisa menghemat waktu petugas sampah. Sehingga, mereka bisa memiliki waktu lebih banyak untuk mengerjakan hal lain.

Ingat, petugas pengangkut sampah juga manusia. Ayo kita bantu dengan bijak membuang sampah mulai dari rumah kita sendiri! (*)

5 comments on “Zero Waste Cities dan Peningkatan Kualitas Hidup Petugas Sampah

  1. Masalah sampah seperti mata rantai yang tqk terputus, selalu ada menyertai keseharian kita, karena manusia memang membutuhkan makan, berpakaian dan menggunakan alat2 rumah tangga, dll, sehingga berpotensi menimbulkan sampah.

    Tetapi dengan pengelolaan yang tepat dapat mengurangi polusi lingkungan ya mbak. Seperti program Zero Waste Cities ini ya, bagus sekali programnya. Paling tidak kita mulai dulu dari sampah rumah tangga. Semangat memilah sampah.

  2. Saya paling semangat memilah sampah mbak cucum. Tapi, kalau untuk mengompos duhaiiiii gagal total, jadi gerakan ZWC ini aku seneng banget, bisa ni diajukan ke pak RW setempat. Dengan hal sederhana memilah sampah gini, kita juga bisa menolong petugas sampah untuk hidup lebih layak ya mbak cucum.

  3. Paling sedih itu kalau ada sampah pecah belah atau beling dicampur. Petugas sampahnya kasihan. Udah gaji gak seberapa eh bisa terluka dan infeksi karena sampah beling itu. Penting banget ya Mbak, sosialisasi pilah sampah di tingkat RT RW. Toh ujung-ujungnya demi kepentingan bersama.

  4. Sedih banget liat bapak2 yg pegang tulisan “Anda yg Pilah Kami yg Olah” Dulu waktu saya kecil, d rumah dsediakan tempat sampah utk yg organik dan anorganik. Sayang skrg saya blm menerapkan’y utk rumah sendiri, pdhal kalo bisa memilah mulai dr lingk rumah sendiri akan mempermudah pengelolaan sampah ya..

    Saya juga udh ngurang2i penggunaan plastik sekali pakai sih sejak lumayan lama. Klo belanja pakai kantong sendiri, minum juga mending bawa tumblr sendiri dan usahain bgt gak beli minuman botol sekali pakai itu. Memang usaha’y belum seberapa cuma semoga bisa kontinyu dan naik progress’y..

  5. Pesan untuk bijak mengelola sampah ini penting banget.
    Dari hal kecil aja, kaya belanja tahu, sudah menghasilkan limbah plastik berapa banyak plastik tuh..?
    Hiiks~
    Aku sedih banget…karena kebiasaan ini belum berjalan penuh di keluarga kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *