Cucum Suminar

Lifestyle, Parenting & Travelling Blog

Belajar Menumbuhkan Karakter Baik Anak dari Serial “Si Badung” Enid Blyton

Empat serial “Si Badung” Enid Blyton.

Meski sudah menjadi ibu dari dua orang anak, saya masih suka membaca buku-buku cerita karangan Enid Blyton. Buku-bukunya menurut saya tidak lekang waktu. Selain itu, meski ditujukan untuk anak-anak, seru juga dibaca oleh orang dewasa. Bahkan walaupun sudah berkali-kali dibaca sejak kecil dulu.

Selain serial Lima Sekawan (The Famous Five), salah satu bacaan favorit saya dari penulis asal Inggris tersebut adalah serial Si Badung atau kalau dalam versi Inggrisnya The Naughtiest Girl. Sebagai orangtua, ada banyak hal yang bisa saya ambil hikmahnya dari serial tersebut untuk menumbuhkan karakter baik si buah hati.

Serial Si Badung sebenarnya ada 10 judul yang dipublikasikan sejak 1940. Empat judul ditulis langsung oleh Enid Blyton, sisanya ditulis oleh Anne Digby setelah Enid Blyton meninggal dunia pada akhir Nopember 1968 di usia 71 tahun. Namun saya sendiri baru membaca empat judul yang ditulis langung oleh Enid Blyton.

Oleh karena itu, tulisan ini juga hanya akan membahas empat judul dari serial tersebut, yakni Cewek Paling Badung di Sekolah (The Naughtiest Girl in the School), Sekali Lagi Si Paling Badung (The Naughtiest Girl Again), Si Badung Jadi Pengawas (The Naughtiest Girs is A Monitor), dan Ini Dia Si Paling Badung (Here’s the Naughtiest Girl).

Sekilas tentang Serial Si Badung

Serial Si Badung (The Naughtiest Girl) berkisah tentang petualangan Elizabeth Allen di sekolah asrama Whyteleafe. Elizabeth merupakan anak tunggal dan terlahir dari kalangan keluarga berada. Sejak kecil ia sudah terbiasa dilayani dan dimanjakan. Itu makanya ia tumbuh menjadi gadis manja, sombong, dan semau sendiri. Apapun keinginannya harus dituruti.

Resah dengan keadaan Elizabeth, sang ibu mengirim si buah hati ke sekolah asrama Whyteleafe. Tujuannya tentu saja agar Elizabeth memiliki karakter yang lebih baik. Namun, rencana sang ibu tentu saja ditentang Elizabeth. Ia tidak mau belajar dan tinggal di asrama, dia maunya tetap tinggal di rumahnya yang mewah dan diajar secara privat oleh guru pribadi.

Itu makanya saat tak bisa mengelak bersekolah di Whyteleafe, Elizabeth berusaha menjadi gadis paling badung. Elizabeth berpikir bila ia menjadi sosok yang tidak bisa diatur, tidak bisa mengikuti pelajaran, dan tidak akur dengan teman sekolah, ia bisa segera dikembalikan ke rumah. Namun ternyata ia salah. Setelah beberapa waktu ia justru berubah menjadi gadis baik dan sangat betah bersekolah di Whyteleafe.

Belajar Berbagi

Meski ringan khas novel anak-anak, ada banyak hikmah yang dapat diambil dari serial Si Badung ini. Salah satunya adalah belajar berbagi. Murid-murid Whyteleafe dibiasakan untuk berbagi makanan yang dimiliki kepada teman-teman satu sekolah, baik yang dibawa dari rumah usai libur sekolah, maupun yang dikirimkan orangtua maupun kerabat secara khusus ke sekolah.

Selain itu, mereka juga dibiasakan tidak boros. Uang jajan dibatasi dan diberikan setiap minggu. Setiap siswa juga mendapatkan uang jajan yang sama besar. Setiap siswa wajib menyetorkan uang yang mereka miliki saat rapat besar. Baik yang diberikan oleh orangtua/kerabat secara langsung saat pulang liburan sekolah, maupun yang dikirimkan melalui wesel pos.

Bila ada keperluan mendesak yang memerlukan uang cukup besar –baik untuk keperluan pribadi maupun untuk kepentingan bersama, setiap siswa bisa meminta tambahan uang. Biasanya nanti akan diputuskan oleh para pengawas di sekolah tersebut apakah permintaan siswa tersebut dapat dikabulkan atau tidak.

Sistem seperti ini menurut saya sangat bagus. Jadinya tidak ada kesenjangan jumlah uang jajan antara siswa dari kalangan keluarga berada dengan siswa dari kalangan keluarga sederhana. Siswa dari kalangan keluarga berada bisa mensubsidi uang jajan siswa dari kalangan keluarga sederhana.

Belajar Bertanggung Jawab

Melalui serial ini kita bisa belajar untuk bertanggung jawab. Saat siswa Whyteleafe menghilangkan buku pinjaman dari sekolah, harus mengganti buku tersebut. Siswa itu harus membeli buku pengganti dari jatah uang jajan yang diberikan dari sekolah. Begitu pula saat merusak fasilitas sekolah, harus mengganti fasilitas tersebut hingga kembali berfungsi dengan baik, kecuali hal tersebut benar-benar tidak sengaja, diluar kontrol siswa tersebut.

Begitu juga saat berbuat salah kepada teman, harus legowo meminta maaf. Kalau menolak meminta maaf? Bisa satu sekolah memusuhi si murid tersebut. Namun bagusnya, setelah siswa tersebut meminta maaf dan menyadari kesalahan yang dilakukan, seluruh sekolah biasanya memaafkan dan membantu siswa tersebut agar menjadi pribadi yang lebih baik. Tidak ada istilah memaafkan, tetapi tidak melupakan.

Serunya, semua peraturan dibuat oleh seluruh siswa. Sehingga, seluruh hukuman juga ditentukan oleh seluruh siswa. Guru dan kepala sekolah tidak terlibat. Biasanya hanya dimintai pertimbangan untuk kasus-kasus yang lumayan pelik. Itu pun sifatnya hanya anjuran, keputusan tetap berada di tangan siswa.

Belajar Peduli dan Saling Membantu

Melalui serial Si Badung kita juga bisa belajar peduli dan saling membantu. Bantuan dan kepedulian yang dilakukan secara spontan sangat berarti. Hal tersebut bisa bisa mengubah persepsi seseorang. Bahkan bukan tidak mungkin menjadi kepedulian yang berkelanjutan. Menular.

Hal tersebut seperti yang dilakukan Rita sang ketua pengawas Whyteleafe. Saat mengetahui Elizabeth pergi ke desa dekat sekolah sendirian, ia menawarkan diri menjadi teman seperjalan. Hal tersebut dilakukan agar Elizabeth tidak dihukum. Untuk anak kelas bawah, bukan pengawas, terlarang pergi ke desa untuk berbelanja sendirian. Setiap anak harus pergi berpasangan.

Saat itu Elizabeth tidak memiliki teman. Tak ada satupun teman sekolah yang mau menemaninya ke desa. Saat itu Elizabeth dicap menyebalkan. Selain badung, ia juga pelit. Saat makan bersama, ia menolak berbagi kue yang ia bawa cukup banyak dari rumah dengan teman yang lain. Efeknya semua orang menjauhi Elizabeth. Namun, karena terlalu ingin pergi, ia nekat pergi sendirian ke desa.

Berkat kebaikan Rita, Elizabeth perlahan membuka diri. Ia mulai menjalin pertemanan dengan Joan. Ia juga membantu beberapa kesulitan yang dialami oleh Joan. Alhasil, lambat laun ia bisa menjalin pertemanan dengan teman-teman yang lain dan merasa bersekolah di Whyteleafe sangat menyenangkan.

Lingkungan yang Baik, Membentuk Anak Menjadi Baik

Melalui serial ini saya menjadi semakin percaya lingkungan yang baik dapat membentuk anak memiliki karakter yang baik. Anak manja, semau sendiri, tidak taat aturan, tidak hormat kepada orang yang lebih tua, bisa berubah menjadi anak mandiri, taat aturan, dan hormat kepada orang yang lebih tua.

Hal yang harus dilakukan adalah memotivasi anak dan menciptakan lingkungan yang mendukung agar anak bersikap baik. Apalagi setiap manusia pada dasarnya baik. Namun, terkadang ada peristiwa masa kecil yang membuat kebaikan tersebut “terkubur”.

Hal tersebut seperti yang terjadi pada dua teman Elizabeth. Satu suka mencuri uang teman, satu suka membully anak yang lebih kecil. Setelah ditelusuri ternyata keduanya melakukan hal tersebut karena trauma masa kecil. Setelah lepas dari trauma tersebut mereka berubah menajdi sosok yang sangat baik.

Ada banyak pesan moral yang baik di serial ini yang tidak bisa saya jabarkan satu-satu. Harus membaca bukunya sendiri. Bagus ini dibaca oleh anak-anak sekolah, orangtua, guru dan pengelola sekolah.

Salah satu hal yang berkesan adalah saat Elizabeth marah saat dituding oleh teman-teman sekolahnya tak tahu aturan karena tidak diajari oleh orangtua.  Ia mengatakan orangtuanya sudah mengajari hal-hal baik, hanya saja ia memang bandel. Setelah itu, ia bertekad menjadi anak yang baik.

Pada kehidupan nyata banyak kejadian seperti itu. Saat seorang anak tidak tahu aturan, bandel, menyebalkan, banyak yang menyalahkan si orangtua. Orangtua tersebut dianggap tidak bisa mendidik sang anak dengan baik. Padahal bisa saja si orangtua sudah mendidik anak dengan baik, namun lingkungan sekitar tidak mendukung. Ingat lho, kepribadian anak itu dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari lingkungan keluarga, rumah hingga sekolah.

Selamat Membaca! Salam! (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *