Cucum Suminar

Lifestyle, Parenting & Travelling Blog

Pengalaman Melahirkan di RSIA Frisdhy Angel Batam

Dokumentasi Pribadi

Jujur, saya tidak pernah membayangkan akan melahirkan di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Frisdhy Angel, Kota Batam, Kepulauan Riau. Sebab, saya termasuk ibu-ibu yang terlalu fanatik memilih dokter spesialis kandungan. Sejak kehamilan anak pertama saya sudah memiliki dokter kandungan langganan.

Beliau dokter senior di salah satu rumah sakit pemerintah, sekaligus pemilik RSIA yang berlokasi tak jauh dari RSIA Frisdhy Angel. Saking fanatiknya dengan dokter tersebut, saya rela mengatre untuk kontrol kehamilan hingga tengah malam. Maklum pasien dokter tersebut sangat banyak. Saat dokter kandungan itu sedang berhalangan untuk praktek, saya juga rela memundurkan jadwal kontrol dibanding konsul ke dokter pengganti.

Namun, setiap proses melahirkan selalu memiliki cerita tersendiri. Saat akan melahirkan anak kedua, saya ternyata tidak bisa melahirkan dengan bantuan dokter kandungan tersebut. Saat akan melahirkan anak kedua, saya ternyata harus melahirkan secara caesar. Ketuban saya pecah dan sudah berwarna kehijauan, sementara bukaan tak juga bertambah.

Melahiran secara caesar di RSIA milik dokter senior itu sebenarnya memungkinkan. Hanya saja saat akan melakukan operasi, semua dokter anastesi yang biasa bekerjasama dengan RSIA tersebut sedang bertugas di rumah sakit utama. RSIA tersebut memang belum memiliki dokter anastesi sendiri yang stand by selama 24 jam.

Mungkin karena setiap ibu yang melahirkan di sana selalu diarahkan untuk melahirkan normal. Kalaupun harus caesar, sudah terjadwal sebelumnya. Saya termasuk salah satunya. Sejak awal, saya memang sudah berniat untuk mlahirkan normal seperti melahirkan anak pertama dulu yang dibantu dokter tersebut di RSIA miliknya itu. Kondisi saya dan calon bayi juga sangat memungkinkan untuk melakukan proses kelahiran normal.

RSIA Frisdhy Angel Batam. | Dokumentasi batam all about city

Namun, manusia memang hanya bisa berencana, Allah yang menentukan. (Calon) bayi kedua saya dinyatakan gawat janin. Efek ketuban sudah pecah dan berwarna kehijauan tetapi bukaan tak juga bertambah. Untuk menyelamatkan saya dan si calon bayi harus segera melakukan operasi caesar.

Saat itu, sempat ada opsi untuk melahirkan di RSOB/RSBP tempat dokter senior tersebut biasa berpraktek. Hanya saja jarak dari RSIA tersebut ke RSOB/RSBP lumayan jauh. RSIA tersebut berlokasi di Nagoya, sementara RSBP/RSOB di Sekupang. Akhirnya setelah mempertimbangkan faktor jarak, saya dan suami meminta dirujuk ke RSIA Frisdhy Angel, yang hanya sepelemparan batu dari RSIA tersebut.

Terlebih dr. Rinta Maulina, SpOG yang akan membantu persalinan saya di RSIA tersebut merupakan rekan sejawat sang dokter senior di RSOB/RSBP. Saya berpikir dokter tersebut akan sama baiknya dengan dokter senior itu, sama sabarnya, sama profesionalnya. Apalagi dokter senior tersebut secara khusus menelepon dr. Rinta sebelum saya diantarkan ke sana dengan ambulans.

Ditangani Super Cepat

Kami berangkat dengan menggunakan ambulans dari RSIA milik dokter senior tersebut ke RSIA Frisdhy Angel pukul 10.30 WIB tepat. Meski kondisi dinyatakan kurang baik, saya masih sempat melihat jam yang digantung di salah satu dinding rumah sakit milik dokter senior tersebut. Entah kenapa, meski calon bayi dinyatakan gawat janin, saya merasa sangat tenang.

Bagian dalam RSIA Frisdhy Angel. | Dokumentasi Pribadi

Jauh-jauh hari sebelum melahirkan, saya memang sudah meniatkan diri untuk menghadapi proses persalinan yang kedua ini dengan lebih sabar dan tenang. Saya tidak mau pengalaman melahirkan anak pertama terulang. Saat itu saya begitu panik, takut, dan tidak kuat menahan rasa sakit.

Nyaris sepanjang proses persalinan anak pertama, saya berteriak sangat kencang, membuat heboh satu rumah sakit. Alhasil, hingga kontrol kehamilan anak kedua –yang berbeda sekitar tujuh tahun dari anak pertama, seluruh staf rumah sakit masih mengenal saya. Ibu-ibu yang sangat heboh saat melahirkan hehe. Malu!

Tidak sampai lima menit, saya sudah sampai di RSIA Frisdhy Angel. Saat sampai saya langsung diarahkan ke IGD. Tim medis langsung melakukan beberapa hal untuk persiapan saya operasi caesar, mulai dari mengganti pakaian dengan baju dari rumah sakit, hingga mengecek golongan darah dan tekanan darah.

Setelah persiapan selesai, saya langsung dibawa ke ruang operasi. Saya tidak dibius total. Saat dokter melakukan operasi, saya masih mendengar obrolan mereka. Bahkan saat dr. Rinta Maulina, SpOG sedikit terperanjat dengan air ketuban saya yang katanya hijau pekat, saya masih mendengar dengan jelas.

Saya juga masih bisa menjawab pertanyaan dr. Meidy Daniel Posumah SpA kala anak saya sudah berhasil dilahirkan melalui proses operasi. Sambil menggendong anak kedua saya, dokter tersebut bertanya, “Ibu, ini anaknya, sehat, lengkap, coba tebak perempuan apa laki-laki?” lalu saya jawab laki-laki.

Proses melahirkan anak kedua tersebut lumayan cepat. Pukul 11.15 WIB sudah berhasil dilahirkan. Proses pascaoperasi juga tidak berlangsung lama. Tepat pukul 12.00 WIB saya sudah ditempatkan di ruang rawat inap. Saya menempati ruang kelas III. Saat itu di ruang yang sama juga ada ibu-ibu yang baru melahirkan anak laki-laki dengan proses caesar. Ia melahirkan dua jam lebih cepat dari saya.

Jujur, saya awalnya ragu-ragu menempati kelas III. Takut tidak nyaman. Namun bangunan rumah sakit tersebut terlihat relatif baru dan sangat bersih. Meski kelas III lumayan nyaman. Ada enam tempat tidur yang ditempatkan. Dijejerkan tiga-tiga kiri dan kanan. Namun, karena hanya diisi dua orang, privasi lebih terjaga. Saya ditempatkan di sisi kiri, pasien yang lain ditempatkan di sisi kanan.

Sangat Pro ASI

Hal yang saya suka dari RSIA Frisdhy Angel, rumah sakit ini sangat pro asi. Ada petugas khusus perempuan yang secara berkala mengecek dan mengingatkan untuk memberi ASI si bayi. Ia juga tak segan memberi tahu dan membetulkan agar kita bisa menyusui dengan tepat.

Sangat pro ASI. | Dokumentasi Pribadi

Jujur, jarak melahirkan yang cukup jauh dari anak pertama, membuat saya sedikit lupa bagaimana cara memberi ASI. Selain itu, mengajari juga bagiamana cara menggendong agar si bayi merasa nyaman. Lumayan sangat membantu.

Dokter anak dan dokter kandungan dari rumah sakit tersebut juga sama pro asi-nya. Setiap kali kontrol, selalu mengingatkan agar si bayi diusahakan hanya diberi ASI. Tidak diberi susu formula. Mereka juga memberi tips agar ASI lancar. Tak hanya itu, memberi informasi juga berapa lama bayi biasanya menyusui hingga kenyang, hingga memberi tahu ciri-ciri bayi lapar dan sudah kenyang.

Saat pulang tak ada bingkisan susu formula dari rumah sakit. Jujur, saat melahirkan anak pertama di rumah sakit lain, saya diberi satu tas lumayan besar yang berisi susu formula. Rumah sakit tetap memberi bingkisan, tetapi isinya bukan susu formula, melainkan foto dan data lahir anak.

Makanan yang Disajikan Sangat Lezat

Saya paling malas mengudap makanan yang disediakan rumah sakit. Rasa makanan yang disajikan biasanya kurang lezat. Namun, berbeda dengan makanan yang disediakan di rumah sakit ini. Makanan-makanan yang saya konsumsi selama dirawat di rumah sakit ini rasanya juara.

Sup ayam super lezat. | Dokumentasi Pribadi

Tak hanya itu, makanan yang disajikan juga sangat variatif, mulai dari bubur hingga sup ayam. Alhasil selama tiga hari dirawat, saya selalu menunggu-nunggu jam makan hehe. Makanannya enak. Saya yang bahkan tidak terlalu suka sup ayam, saat makan sup ayam dari rumah sakit ini jadi suka banget.

Penanganan Pasien Sangat Baik

Dokter, perawat dan staf rumah sakit sangat baik dan ramah. Hal yang paling penting, penanganan pasien sangat baik. Alhamdulillah, hampir dua tahun pascamelahirkan, tidak ada keluhan. Jahitan bekas operasi pulih dengan sempurna. Hanya menyisakan garis panjang yang normal dialami ibu-ibu yang melakukan operasi caesar.

Penanganan pasien sangat baik. | Dokumentasi Pribadi

Tidak ada juga keluhan senat-senut dibekas jahitan operasi seperti yang suka dikeluhkan beberapa ibu-ibu. Kalau garis panjang dibawah perut tidak ada, saya nyaris lupa kalau 20 bulan lalu saya baru melakukan operasi caesar. Alhamdulillah badan terasa sehat. Pasacamelahirkan normal anak pertama saya justru merasa sangat letih hingga berbulan-bulan. Mungkin efek mengejan karena melahirkan secara normal.

Tujuh hari pasca operasi saya sudah merasa pulih. Hari pertama operasi hingga hari ketiga badan memang terasa kaku. Mengubah posisi dari berbaring ke duduk saja rasanya butuh perjuangan ekstra. Namun, setelah satu minggu berlalu, saya bahkan sudah bisa mencuci pakaian, menjemur, meski harus menggunakan mesin cuci otomatis.

Oiya, saat akan dirujuk ke rumah sakit ini, saya sebenarnya agak sedikit khawatir. Setiap kali melintasi rumah sakit ini, saya sering melihat pasien yang berkunjung adalah pasien dari kalangan Chinese. Bukan SARA, tetapi khawatir rumah sakit ini khusus untuk kalangan mereka sendiri.

Biaya melahirkan di Frisdhy Angel saat saya melahirkan. Biaya saat ini bisa jadi berbeda.

Namun ternyata tidak demikian, staf rumah sakit banyak yang malah berhijab. Dokter kandungan yang membantu saya bersalin juga berhijab. Pasien rumah sakit ini memang lumayan banyak dari kalangan Chinese, tetapi pasien dari kalangan pribumi juga tidak sedikit. Interaksi setiap pasien juga sangat baik. Membaur. Tidak ada ekslusivitas.

Setelah merasakan melahirkan dengan nyaman di rumah sakit ini, nanti kalau diberi keprcayaan lagi untuk melahirkan anak ketiga, saya dan suami sepakat untuk melahirkan di rumah sakit ini lagi. Namun, entah kapan. Saat ini, punya anak dua saja rasanya masih cukup hehe. Salam! (*)

2 comments on “Pengalaman Melahirkan di RSIA Frisdhy Angel Batam

    1. Salam kenal Mbak, biaya melahirkan berbeda untuk setiap kelas. Sudah saya update, dicantumkan di artikel ini berbentuk foto untuk biaya melahirkan. Namun, itu saat saya melahirkan dua tahun lalu, biaya saat ini bisa jadi berbeda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *