Cucum Suminar

Lifestyle, Parenting & Travelling Blog

Batam, Air Bersih dan Perubahan Iklim

Kota Batam. | Dokumentasi ATB

Air merupakan senyawa yang paling diperlukan manusia untuk menopang kehidupan. Manusia tidak bisa hidup tanpa air. Berdasarkan keterangan dari ahli gizi Universitas Gajah Mada, Perdana Samekto, yang dirilis kompas.com, selama masih mengkonsumsi air, manusia dapat bertahan hidup tanpa makan hingga tiga minggu. Namun, tidak akan bisa bertahan hidup, bila tidak meminum air selama empat hingga tujuh hari berturut-turut.

Tak hanya sebagai sumber kehidupan, air juga berfungsi sebagai pendukung transportasi manusia. Banyak wilayah di Indonesia yang memanfaatkan air sebagai alat pendukung transportasi. Salah satunya adalah Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Kota di sebelah utara Indonesia ini memanfaatkan air agar dapat terhubung dengan daerah lain, mulai dari Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, Singapura, hingga Johor, Malaysia.

Air juga berfungsi sebagai pendukung transportasi manusia. | Dokumentasi Pribadi

Air juga berfungsi sebagai sumber energi. Tidak sedikit sumber air di negeri kita tercinta ini yang difungsikan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Ada PLTA Peusangan di Aceh, PLTA Asahan di Sumatera Utara, PLTA Maninjau di Sumatera Barat, PLTA Saguling di Jawa Barat, PLTA Lodoyo di Jawa Timur, hingga PLTA Bakaru di Sulawesi Selatan.

Begitu pentingnya air bagi kehidupan manusia, membuat Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) menetapkan satu hari dalam satu tahun sebagai Hari Air Sedunia  atau World Water Day. Sejak 1992, perkumpulan berbagai bangsa di dunia tersebut menetapkan 22 Maret sebagai Hari Air Sedunia.

Hari Air Sedunia. | Gambar diambil dari worldwaterday.org

Bahkan agar manusia semakin peduli dengan kelangsungan air, setiap tahun selalu ditentukan tema khusus untuk memperingati Hari Air Sedunia, mulai dari tema “Air untuk Masa Depan”, “Air untuk Pembangunan”, “Air dan Kebudayaan”, “Air untuk Perkotaan”, “Air dan Energi”, “Air dan Pekerjaan”, “Air untuk Semua”, hingga tema tahun ini “Air dan Perubahan Iklim”.

Air dan Perubahan Iklim

Air dan perubahan iklim memang sangat berkaitan. Perubahan iklim sangat mempengaruhi ketersediaan air di bumi. Saya dan warga Batam yang lain menjadi saksi bagaimana perubahan iklim membuat kami sangat was-was terancam kesulitan mendapatkan air bersih untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Waduk Duriangkang. | Dokumentasi ATB

FYI, Pulau Batam tidak memiliki pegunungan yang dapat memancarkan mata air alami. Batam juga nyaris tidak memiliki sungai yang berlimpah air. Tak hanya itu, jenis tanah di Batam juga bersifat impermeable. Tidak mudah menyerap air. Sehingga, mata air dari tanah juga tidak dapat diandalkan.

Alhasil, Batam sangat mengandalkan air hujan sebagai andalan utama air baku. Itu makanya sejak pertengahan 1970-an, secara bertahap Batam membangun waduk tadah hujan. Ada tujuh waduk yang dibangun pemerintah, dalam hal ini Otorita Batam/BP Batam di berbagai titik, yakni Waduk Sei Harapan, Waduk Baloi, Waduk Nongsa, Waduk Sei Ladi, Waduk Mukakuning, Waduk Duriangkang, dan Waduk Tembesi. Air baku dari waduk-waduk tersebut kemudian diolah untuk pemenuhan kebutuhan air bersih seluruh pulau, baik untuk air minum, mandi-cuci-kakus, maupun keperluan industri.

Waduk Mukakuning. | Dokumentasi ATB

Meski di atas kertas memiliki tujuh waduk, saat ini Batam hanya memanfaatkan air baku dari lima waduk. Air baku Waduk Tembesi belum dimanfaatkan. Hal tersebut dikarenakan waduk tersebut baru selesai proses desalinasi alami. Sama seperti Waduk Duriangkang, Waduk Tembesi merupakan waduk estuari. Masih perlu waktu untuk pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA).

Sementara Waduk Baloi, berdasarkan data yang dirilis kompas.id, sudah sejak 2012 tidak lagi digunakan. Hal tersebut dikarenakan air baku dari waduk tersebut sudah tidak lagi ekonomis untuk diolah menjadi air bersih. Kandungan deterjen, kromium, kadmium, dan timbal yang berasal dari rumah liar di sekitar waduk sudah terlampau tinggi.

Waduk Baloi. | Dokumentasi ATB

Saat curah hujan normal, lima waduk yang dioperasikan tersebut sangat cukup untuk pemenuhan kebutuhan air bersih di Batam. Terlebih kapasitas waduk yang dibangun cukup tinggi. Berdasarkan data dari Buku “Development Progress of Batam” yang diterbitkan BP Batam, daya tampungWaduk Sei Harapan mencapai 3.600.000 m3, Waduk Sei Ladi 9.490.000 m3, Waduk Mukakuning 12.270.000 M3, Waduk Nongsa 720.000 M3, dan Waduk Duriangkang 78.180.000 m3.

Namun, anomali cuaca yang sudah berlangsung beberapa tahun terakhir ini, membuat air baku yang ditampung di lima waduk tersebut kerap menyusut sangat signifikan. Sejak 2015, pulau yang hanya sepelemparan batu dari Negeri Singa ini kerap dibayangi ancaman kekeringan.

Penyusutan air baku Waduk Sei Ladi 2015 lalu. | Dokumentasi ATB

Sejak beberapa tahun terakhir ini, musim hujan di Batam berlangsung lebih singkat. Sebaliknya, musim kemarau berlangsung lebih panjang. Padahal dulu, Batam tidak pernah mengenal musim kemarau. Sepanjang tahun selalu hujan dengan intensitas tinggi. Bahkan saya merasa curah hujan di Batam nyaris sama seperti di Bogor yang dikenal dengan julukan “Kota Hujan”.

Puncaknya, September 2015. Operator air perpipaan di Batam, harus melakukan penggiliran suplai air bersih untuk sebagian wilayah. Air baku menyusut sangat signifikan akibat El Nino. Waduk Sei Harapan bahkan diambang krisis. Bila dipaksakan dioperasikan secara normal, waduk tersebut bisa ambruk karena kekurangan air baku.

Waduk Sei Harapan yang menyusut sangat signifikan. | Dokumentasi ATB

Alhasil, untuk pelanggan air bersih yang mendapat aliran air dari Waduk Sei Harapan, terpaksa diberlakukan sistem penggiliran suplai air bersih. Lima hari air mengalir, dua hari mati total selama lebih dari tiga bulan. Tujuannya tentu saja untuk memaksa warga lebih hemat air,  untuk memperpanjang “usia” waduk. Agar waduk tersebut bisa bertahan menyuplai air baku hingga curah hujan kembali normal.

Mimpi buruk terkait kekeringan ternyata terus berlanjut. Dua tahun terakhir ini, Batam kembali merasakan dampak dari berkurangnya curah hujan. April 2019 hingga Juni 2019 beberapa wilayah di Kota Batam sempat kembali merasakan penggiliran suplai air bersih karena kapasitas air baku waduk yang terus menyusut.

Penyusutan air baku Waduk Duriangkang. | Dokumentasi ATB

Awal 2020 lalu, saat warga dunia paranoid dengan Covid-19 yang semakin merebak, warga Batam justru was-was dengan isu kekeringan. Air baku di seluruh waduk berkurang sangat signifikan. Waduk Duriangkang yang merupakan waduk estuari terbesar di Batam –bahkan di Indonesia, juga mengalami penyusutan air lumayan parah.

Penyusutan tersebut akibat dari berkurangnya curah hujan. Sejak akhir 2019 nyaris tidak ada hujan. Kalaupun ada intensitasnya sangat rendah dan tidak turun di areal waduk. Saat Maret 2020 hujan tak juga turun, sempat ada opsi untuk melakukan penggiliran suplai air di seluruh Pulau Batam. Tujuannya tentu saja untuk memaksa warga lebih hemat air, untuk memperpanjang usia waduk hingga hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.

Penyusutan Waduk Mukakuning. | Dokumentasi ATB

Namun, opsi tersebut batal dilakukan. Sebagai kota industri, akan sangat sulit melakukan penggiliran suplai air di seluruh pulau. Ada 22 kawasan industri di Batam yang membutuhkan suplai air secara normal. Ada lebih dari  66 hotel dan resort yang tentu sangat membutuhkan air bersih untuk memberikan layanan prima kepada pengunjung.

Salah satu resort di Kota Batam.| Dokumentasi Pribadi

Meski sudah sangat kritis, waduk Duriangkang tetap diberdayakan secara normal. Bila hujan tak juga turun, saat itu ada banyak opsi yang akan dilakukan pemerintah untuk menyediakan air baku yang semakin menyusut, mulai dari membuat hujan buatan hingga melakukan interkoneksi Waduk Tembesi dengan Waduk Duriangkang. Namun beruntung, saat cadangan air baku semakin menipis, hujan mulai turun dengan intensitas tinggi. Cadangan air baku di Batam (sementara) terselamatkan, meski belum ke kapasitas normal.

Saat Kualitas dan Kuantitas Air Tidak Memadai Ada Banyak Penyakit yang Mengintai

Fungsi air untuk kesehatan manusia sangat krusial. Berkurangnya kualitas dan kuantitas air bersih yang dapat diakses masyarakat dapat menjadi pemicu berbagai penyakit. Kualitas air yang buruk dapat menjadi pencetus diare, kolera, dan leptospirosis. Sementara, bila kuantitas air jauh dibawah jumlah kebutuhan, dapat menyebabkan malnutrisi dan beragam penyakit kulit, mulai dari kudis, kurap, panu hingga gatal-gatal.

Instalasi Pengolahan Air. | Dokumentasi ATB

Air bersih sangat berperan penting untuk menjaga kesehatan. Air (bersih) merupakan senyawa paling efektif dan efisien untuk menghalau kuman, bakteri, hingga virus. Tak ada senyawa lain yang dapat menggantikan efektifitas dan efisiensi air untuk mensterilisasi sesuatu dari kuman, bakteri dan virus. Meski agar lebih optimal, tetap membutuhkan sabun untuk menyingkirkan bakteri, kuman, virus yang menempel dengan lebih cepat dan mudah.

Saat pandemi Covid-19 seperti ini, peran air bersih sangat terasa. Terlebih kita juga dituntut untuk lebih ketat menjaga kesehatan. Kita harus lebih sering mencuci tangan dengan sabun dan air bersih, membilas rambut dan badan usai keluar rumah, hingga lebih sering berganti pakaian.

Manusia Tidak Bisa Menciptakan Air

Meski teknologi sudah semakin canggih, hingga kini belum ada manusia yang mampu menciptakan air. Air betul-betul anugerah dari Yang Maha Kuasa. Paling manusia hanya mampu mengolah air, dari air baku menjadi air bersih, dari air laut menjadi air tawar, atau dari air limbah menjadi air layak pakai.

Waduk Duriangkang. Waduk estuari terbesar di Indonesia. | Dokumentasi ATB

Oleh karena itu, kita harus lebih bijak menggunakan air. Gunakan air seperlunya. Jangan sampai merasa sanggup membayar tagihan air perpipaan, kita semena-mena menggunakan air bersih. Saat ini permasalahannya bukan sanggup membayar tagihan atau tidak, tetapi air bersih yang akan kita gunakan tersedia atau tidak.

Selain Batam, ada banyak daerah lain di Indonesia yang mulai krisis air bersih setiap kali kemarau tiba. Berdasarkan data yang dirilis mediaindonesia.com,  ada Indramayu, Majalengka dan Sukabumi di Jawa Barat, Ada Klaten, Magelang, hingga Karanganyar di Jawa Tengah.

Sebelum cadangan air bersih semakin menipis, sebaiknya kita semakin bijak menggunakan air. Lebih baik dari kesadaran kita sendiri untuk menghemat air, lebih nyaman, kita juga lebih tahu mana yang harus dipenuhi, mana yang tidak. Dibanding, harus dipaksa untuk berhemat air karena air bersih yang akan didistribusikan sudah tidak ada.

Sebelum terlambat, ayo kita sayangi air. Saat menggosok gigi, mencuci tangan, dan mencuci muka kita tutup dulu kerannya. Saat akan membasuh, baru kita buka kembali. Jangan selama menggosok gigi, mencuci tangan dan mencuci muka, keran terus kita buka. Meski jumlahnya tidak signifikan, bila dilakukan sehari tiga kali selama bertahun-tahun jumlah air yang akan terbuang lumayan juga lho.

Selain itu, ayo kita mulai peduli lingkungan agar perubahan iklim dapat ditekan. Jangan membuang-buang makanan. Memasak atau membeli makanan siap saji cukup sesuai porsi yang sanggup kita makan, karena pembusukan makanan dapat menimbulkan gas metan yang menyebabkan perubahan iklim.

Untuk masyarakat Batam, ayo kita bantu pemerintah untuk menjaga keandalam semua waduk. Jangan melakukan pembalakan liar di daerah resapan air, jangan melakukan aktifitas yang dapat mengganggu keandalan waduk, seperti melakukan kegiatan perikanan dan peternakan di sekitar waduk.

Jangan mentang-mentang, Batam kan kaya akan sumber air. Bila air di waduk habis, bisa memanfaatkan air laut yang terhampar sepanjang mata. Duh, saat ini teknologi desalinasi air laut menjadi air tawar belum ekonomis. Belum lagi, membutuhkan sumber daya listrik yang sangat besar. Belum ada pengolahan air laut saja terkadang kelistrikan di Batam terkendala, bagaimana bila menerapkan teknologi tersebut.

Sebagai masyarakat awam, saat ini yang bisa kita lakukan sebagai upaya untuk membantu menjaga cadangan air bersih bertahan lebih lama adalah dengan lebih bijak menggunakan air. Sebelum terlambat. Terlebih katanya ke depan, manusia tidak lagi berperang untuk memperebutkan sumber daya alam, tetapi memperebutkan sumber daya air. Sebelum air lebih mahal dari emas, ayo kita jaga dan sayangi dengan digunakan seperlunya. Salam! (*)

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “Perubahan Iklim” yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini.

17 comments on “Batam, Air Bersih dan Perubahan Iklim

  1. Kebalikan sama aku di Bekasi mba. Pas covid mulai merebak, curah hujan ga menentu, kadang masih hujan deres, tempatku riskan banjir.. jadi ga mikirin takut covid tapi takut banjir. Ternyata begitu situasi di Batam ya mba, ketersediaan air bergantung sama curah hujan.. semoga seluruh warga bisa mengerti dan bijak menggunakan air

  2. Hai, Mbak. Salam kenal 🙂
    Info tentang ketersediaan air di pulau Batam sangat lengkap. Ternyata disana memiliki 7 Danau ya, 5 diantaranya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan air bersih.
    Semoga kondisi kekeringan segera berlalu ya, Mbak. Begitu pula dengan COVID.

  3. Wihh semoga Batam kembali jadi “Kota Hujan” ya Mba supaya supply air bersih kembali banyak. Saya pernah ngerasain susah’y dpt air bersih pdhal masi tinggal d kota, bener2 gak enak..

  4. Wah, aku baru tahu loh bahwa Batam pernah menjadi daerah dengan curah hujan tinggi – bahkan bisa disamakan dengan Bogor. Aku malah mengira Batam itu sejak dulunya kering dan susah air.

    Betul banget, ini bukan soal kita sanggup atau nggak membayar tagihan air. Tapi airnya sendiri tersedia atau nggak. Bijaksana menggunakan air sudah harus kita lakukan secepatnya. Bisa dibayangkan, gimana hidup manusia tanpa air bersih? Huhuhu … Jangan sampai terjadi.

  5. Lengkap banget informasinya

    Saya baru tau, pembusukan makanan dapat menimbulkan gas metan yang menyebabkan perubahan iklim. Padahal kalo saya buang sisa makanan saya tarok aja di tanah, maksudnya biar jadi pupuk organik. Mungkin pengolahan pupuknya harus di dalam tanah kali yak, biar gas metannya gak menguap kemana-mana

    Good Luck ya Mba, Semoga Menang yah.

  6. Tempat tinggal saya saat ini , kalsel, uga air bakunya nggak terlalu bagus. Airnya berwarna kecokelatan karena gambut. Kalau terkena baju putih atau permukaan benda lainnya agak susah dihilangkan. Pasti tetap meninggalkan bercak kuning. Kalau mau bening harua diinapkan dan dikasih tawas. Di situ saya merindukan air tanah di pulau jawa.

  7. Perubahan iklim memang akan lebih terasa di pulau-pulau kecil. Dampaknya perubahan iklim bisa kita mitigasi dengan cara beradaptasi dengan kondisi iklim sekarang. Membuat sumur-sumur resapan untuk memanen air hujan, atau membuat biopori juga bisa diupayakan. Masalah perubahan iklim harus disadari oleh setiap individu, karena penanganannya tidak bisa hanya melibatkan sebagian masyarakat saja, menurut saya loh ini. Makasih mbak, tulisannya bagus … saya jadi tahu apa yg sedang dihadapi oleh masyarakat di Batam.

  8. Saya dulu mengira kalau tinggal di Bogor nggak akan khawatir soal air. Ternyata tidak seperti itu. Hampir setiap pagi dan petang kami kesulitan air.

    Saya nggak kebayang sih kondisi batam seperti apa. Saya pernah ke sana sih. Tapi ya tinggal di hotel. Jadi nggak ngerasain kondisi realnya seperti apa.

  9. Jadi teringat Balikpapan (pernah tinggal d sana) aku Mb yang juga “menggantungkan” air hujan sebagai pasokan air, bersyukur di Batam punya banyak waduk y Mb secara air merupakan kebutuhan pokok dan prinsip 🙂

  10. Terbaik! Saya enjoy sekali membaca tulisan ini dari awal sampai akhir, baru tahau kalau di Batam ternyata kondisinya seperti itu. Jujur, saya termasuk dalam golongan orang yang tidak bisa bertahan tanpa air, suka takut dan panik kalau air macet atau bermasalah. Semoga Batam segera mendapat hujan ya mbak

  11. Baru tahu aku mba kalo Batam menderita kekeringan. Pasti sulit ya, karena kita sangat ketergantungan air dalam berbagai aspek. Semoga jadi pembelajaran agar kita makin bijak memakai air

  12. hai mbak, aku baru tau loh batam ternyata ga punya mata air sendiri. wah peran pemangku kebijakan di ranah air besar sekali ya. apalagi resort dan hotelnya cukup banyak.

    nah mulai dari kita bener nih mbak menghemat air dari rumah. semoga kita bisa lebh bijak dalam mengkonsumsi air bersih ya mbak

  13. Aku baru tau banget nih ttg siklus air di batam. Krn mmg selain gak pernah main kesana jg jarang baca info ttg batam ini kcuali wisatanya.. Wkwk.. Tyt disana curah hujannya tinggi ya. Kalau disini tmsk kategori sedang. Tp pas covid ini cenderung jarang hujan jg.

  14. Ya ampun, ternyata segini parahnya efek perubahan iklim terhadap ketersediaaan air bersih. Kalau nggak ada hujan bisa terancam kekeringan. Yang paling sedih itu air yang nggak bisa dipakai karena tercemar limbah dari perumahan di sekitarnya. Semoga kita makin bijaksana menggunakan air bersih dan nggak buang sampah atau limbah rumah tangga sembarangan ya.

  15. Tulisannya lengkap sekali mbak. Memang air adalah kebutuhan krusial untuk manusia dan makhluk hidup lainnya ya. Kalau air sudah mulai berkurang, apalagi kekeringan.. duh sedihnya. Sebagai manusia harus menjaga agar air tetap aman jumlahnya demi anak cucu di kemudian hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *